Tantangan Perguruan Tinggi Adalah Pembangunan SDM Berkualitas

TANGKAS – Tantangan perguruan tinggi saat ini adalah mendorong pembangunan sumber daya manusia yang terampil dengan keahlian tertentu atau berkualitas sesuai kebutuhan dunia kerja.

Pembangunan industri pada kenyataannya tidak selalu bergantung pada ketersediaan sumber daya alam suatu negara.

Demikian yang disampaikan oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dalam Orasi Ilmiah pada Sidang Terbuka Peringatan 96 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia di kampus Institut Teknologi Bandung, Sabtu (20/8).

Airlangga menambahkan Beberapa negara industri maju justru minim sumber daya alam namun mampu mengoptimalkan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu teknik atau teknologi untuk mendukung pembangunan industrinya. Berkaca dari hal tersebut, pemerintah akan terus mendorong agar perguruan tinggi berperan serta melakukan inovasi melalui perkembangan teknologi untuk mendukung kemajuan industri.

“Saya berharap di usianya yang menjelang seabad ini, perguruan tinggi teknik dapat lebih berkontribusi dalam pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya pembangunan teknologi yang dapat menunjang perekonomian secara luas dan tentunya secara lebih khusus bagi industri nasional,” jelasnya.

Sehingga Airlangga dalam acara tersebut menyarankan pendidikan vokasional di bidang industri untuk SMK hingga D1 dan D2, dengan porsi pengajaran 60 persen di praktek lapangan dan 40 persen di kelas. “Jadi, ada program magang minimal tiga bulan per semester,” ucapnya.

Airlangga dalam orasinya yang berjudul “Konsolidasi Nasional dalam Implementasi Pembangunan Industri”, mengutarakan sinergitas antara dunia usaha dan perguruan tinggi juga perlu didorong untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan vokasional, khususnya di sekitar kawasan-kawasan industri sesuai industri unggulan yang ada di setiap wilayah.

Dalam kesempatan tersebut, Menperin Airlangga menegaskan bahwa pihak Kemenperin menargetkan 200.000 wirausahawan industri Kecil Menengah (IKM) sebagai salah satu pilar penting yang perlu untuk terus ditingkatkan. “IKM merupakan pilar penting bagi industri dalam negeri karena kontribusinya saat ini mencapai 34,82 persen terhadap industri secara keseluruhan,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Rektor ITB Kadarsih Suryadi menyampaikan bawa perguruan tinggi perlu bertransformasi, dari research university menjadi entrepreneurial university, untuk mendukung komersialisasi produk riset inovasi. Untuk itu, perguruan tinggi perlu mengambil peranan yang bersifat strategis dan melampaui Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mencetak wirausaha dan industri dalam lingkungan ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Selanjutnya, Rektor ITB ini menyampaikan Kementerian Perindustrian telah memberikan dukungan dalam pembangunan Pusat Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dalam bidang Mesin Perkakas, Alat Kesehatan, Rekayasa dan Desain Perkeretaapian di perguruan tinggi tersebut.

“Kluster PPTI bertujuan untuk membangun sinergi antara perguruan tnggi dengan industri untuk bekerjasama dalam riset aplikatif yang langsung bias diserap oleh industri terkait. Riset yang dilakukan didorong untuk menghasilkan paten teknologi sehingga bisa tercipta industri kecil dan menengah yang mampu bersaing di pasar,” tuturnya.