Server Itung KPU Dipegang PKS, Ancaman Besar Bagi Jokowi Amin

TANGKASNews – Keberanian Prabowo Subiyanto mendeklarasikan kemenangan Pilpres 2019 ini mempunyai dasar yang kuat untuk melakukan suatu manipulasi data.

Kenapa demikian, sidik kali sidik ternyata Juru Kunci ( kuncen) pemegang Server IT Komisi Pemilihan Umum sistem perhitungan (Situng) adalah orang dari paslon kosong dua, yakni Alumni Informatika ITB yang dikabarkan mempunyai kedekatan dengan partai PKS.

Yudistira Dwi Wardhana Asnar alias Yudis merupakan alumni lulusan Informatika ITB lulusan tahun 1997.

Yudis ini dikabarkan menjadi salah satu anggota Aktifis Masjid Salman yang sangat terkenal dengan gerakan yang radikal dan sangat dekat dengan Partai PKS.

Saat ini, Yudis juga merupakan Super Admin dalam Situng KPU yang mempunyai kewenangan menentukan username dan password operator Situng KPU, serta koreksi hasil input data perolehan suara Paslon Pilpres 2019.

Menanggapi kabar fakta ini, Ketua Alumni Teknik Industri ITB, Made Dana Tangkas mengungkapkan bahwa ada yang salah dan janggal dalam pengelolaan Server Itung (Situng KPU). ” Seharusnya Super Admin Situng KPU dipegang pihak internal dan bukan pihak IT, Khan Aneh,” ujar Made Dana dalam keterangan tertulisnya, Sabtu petang (20/4).

” Ini menjadi satu alasan kuat kenapa Pak Prabowo berani mendeklarasikan diri menjadi Presiden RI dan menyebutkan angka kemenangan Real Count sebesar 62 persen,” sambungnya.

Menurutnya, Prabowo berani melakukan aksi Gila bersama pendukungnya , karena nantknya sudah disetting manipulasi hasil real count KPU untuk Paslon Prabowo Sandi sebesar 62 persen. ” Ini sangat bahaya dan ancaman besar bagi Paslon Jokowi Amin yang secara Fakta sudah menang,” ucapnya.

Untuk itu, Made Dana menghimbau dan meminta kepada TKN ataupun pihak terkait untuk segera melakukan tindakan preventif (pencegahan). ” Karena adanya potensi kecurangan yang sangat besar di dalam KPU yang dilakukan bukan pihak KPU melainkan pendukung 02 yang mempunyai kuasa penuh untuk merubah hasil perolehan suara (Real Count) KPU pada Mei mendatang. ” Lebih cepat Lebih Baik, dibanding terlambat berdampak Indonesia ini akan bubar,” pungkasnya.

Red
Editor : Intan