Rupiah Zona Merah, Presiden Masih Pelihara Penyakit Pemerintah

TANGKAS  –Pergerakan nilai tukar rupiah kian hari kian memprihatinkan, Rupiah kini telah menunjukan angka Rp 14.700. Nilai ini memasuki detik detik ramalan Iwan Siswo, Kader Muda PDI Perjuangan pada 3 bulan yang lalu disaat nilai Rupiah berada di angka Rp 12 Ribuan.

Empat bulan lalu, Iwan Siswo (ISis) telah meramalkan nilai tukar Rupiah pada akhir tahun 2015 akan bergerak di angka Rp 15.000 berdasarkan perhitungan dari krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998.  Prediksi atau ramalan ini akan terjadi, apabila Presiden dianggap tetap memelihara penyakit yang berada dalam sirkulasi roda kabinet dan pemerintah.

Menurut Iwan , Penyakit utama penyebab terpuruknya nilai tukar rupiah terkait kepemimpinan Agis Martowardodjo selaku Gubernur BI, dan Rini Soemarmo selaku Menteri BUMN. ” Kedua petinggi ini penyebab anjloknya nilai Rupiah”, ujar Iwan Siswo. “Kalau dari awal Presiden mau mendengarkan atas apa saran dari suara rakyat, kemungkinan nilai Rupiah tidak akan ambruk seperti sekarang”, imbuh Iwan. (Baca : Jokowi Harus Copot Gubernur BI)

Selama Presiden tetap pelihara dua penyakit pemerintah ini, Iwan menegaskan Nilai Rupiah akan mencapai klimaks seperti apa yang telah diramalkan beberapa bulan yang lalu. Secara otomaris kondisi ekonomi yang kian terpuruk akan berpengaruh akan posisi Jokowi sebagai Presiden Ketujuh RI.  “Rupiah jalan lain pelengseran Presiden ” Tegas Iwan (Baca : Jalan Lain Presiden Untuk Lengser )

Sekali lagi, Iwan Siswo menegaskan agar Presiden sesegera mungkin melakukan pencopotan terhadap gubernur BI Agus Martowardodjo dan Menteri BUMN, Rini Soemarmo. Karena kedua petinggi ini sebagai penyebab kegaduhan politik dan ekonomi yang terjadi di tanah air.

 

Rupiah Berada di Zona Merah

Hingga penutupan perdagangan hari ini, posisi mata uang rupiah terus merosot. Nilai tukarnya sudah menyentuh Rp14.700 per dolar AS. Hal ini disebut-sebut lantaran ketidakpastian ekonomi global termasuk peran The Federal Reserve yang tak juga mengumumkan angka patokan suku bunganya.

Lantaran ketidakpastian tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang tadinya dipatok pada angka 3,8% akhirnya diturunkan menjadi 3,6% hingga berdampak pada harga komoditas yang turut anjlok. Belum lagi, Cina yang merupakan raksasa ekonomi dunia kedua setelah Amerika Serikat dan juga mitra dagang utama Republik Indonesia tengah mengalami perlambatan.

Selain nilai tukar rupiah yang ambrol, hingga penutupan perdagangan hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih betah menempati zona merah dengan jatuh 88 poin akibat tekanan aksi jual investor asing.

Pada pembukaan perdagangan pagi tadi IHSG anjlok 11,499 poin atau 0,40 % ke level 4.192,716 akibat koreksi pasar saham Asia.

Menutup perdagangan Senin pekan ini, IHSG terus anjlok 88,937 poin (2,11%) ke level 4.120,502. Sedangkan LQ45 terpangkas 19,068 poin ke level 680,303. Seluruh Indeks sektoral jatuh ke zona merah lantaran tekanan jual.

Hingga sore ini, transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp 266,869 miliar di seluruh pasar. Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 219.404 kali dengan volume 4,587 miliar lembar saham senilai Rp 4,099 triliun. Sebanyak 73 saham naik, 210 turun, dan 63 saham stagnan.

Bursa-bursa regional masih kompak melemah hingga siang hari ini. Koreksinya cukup dalam meski ada sentimen positif dari Wall Street yang menguat di akhir pekan lalu.

Bursa-bursa di Asia bergerak variatif hingga penutupan perdagangan sore ini. Hanya bursa saham China yang menguat sendirian di zona hijau.

EDITOR : DD BIN