PVMBG : Tahun 1963 , Gunung Agung Rehat Dua Minggu Sebelum Meletus Dahsyat

TANGKASNews – Proses Erupsi Gunung Agung terjadi saat ini mempunyai kemiripan dari letusan pads tahun 1963 silam .

 

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Devy Kamil Syahbana  menuturkan saat erupsi di tahun 1963, Gunung Agung mengalami proses rehat selama dua minggu sebelum terjadinya letusan besar.

 

Sedangkan saat ini , imbuh Devi, sejak Sabtu (2/12) aktivitas vulkanik Gunung Agung mengalami penurunan ditandai dengan semburan asap tipis berwarna putih berketinggian 500 – 1000 meter.

 

Sebelumnya , Pasca Gunung Agung Agung mengalami gempa tremor over scale keenam , abu vulkanik yang disemburkan dari puncak Gunung Agung masih mencapai ketinggian 1500 – 2000 meter.

 

Sedangkan hari Minggu (3/12), Devi menambahkan berdasarkan pantauan visual Gunung Agung tidak tampak sama sekali adanya semburam asap dari Puncak kawah. “Pemantauan visual dari pukul 12.00 hingga 18.00, Minggu (3/12) Gunung Agung tidak terlihat karena tertutupi kabut,” terangnya.

 

Devi menjelaskan kondisi Gunung Agung tenang dapat direfeksikan dua kemungkinan.

 

“Kemungkinan pertama adalah magma yang naik ke permukaan lajunya melemah karena kehilangan energi akibat gas magmatik telah semakin berkurang pasca erupsi kemarin dan pada akhirnya habis, menuju kesetimbangannya (equilibrium),” ujar Devy di Pos Pemantauan Gunung Agung, Karangasem Bali.

 

“Sedangkan kemungkinan kedua adalah terjadi penyumbatan pada pipa magma, dimana fluida magma yang bergerak ke permukaan terhalang oleh lava di permukaan yang mendingin dan mengeras,” imbuhnya.

 

Jika kemungkinan pertama terjadi , Devi mengatakan potensi terjadinya erupsi akan berkurang karena magma kehilangan mobilitasnya. “Dan selanjutnya proses erupsi akan tidak teramati lagi dalam waktu dekat , hingga magma baru terlahir kembali,” ucapnya.

 

Lebih lanjut , Devi mengutarakan jika kemungkinan kedua yang terjadi, maka potensi terjadinya erupsi akan meningkat karena akumulasi tekanan magma bertambah. “Pada waktu tertentu, ketika lava yang menutupi keluarnya magma tadi kekuatannya lebih rendah dari tekanan yang diakumulasi di bawahnya, maka erupsi dapat terjadi,”  jelasnya.

 

Dari kemungkinan kedua yang terjadi, imbuhnya, maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi yakni yang pertama jika masa tenangnya lama maka kemungkinan akumulasi tekanannya semakin besar, erupsi memungkinkan terjadi lebih eksplosif dari erupsi beberapa hari yang lalu.

 

“Namun jika masa tenangnya pendek maka kemungkinan akumulasi tekanannya tidak besar, erupsi memungkinkan untuk terjadi dengan dengan eksplosivitas mirip erupsi kemarin atau lebih rendah dari pada erupsi utama tahun 1963,” paparnya.

 

Dua Kemungkinan yang telah dipaparkan Devi tersebut, semua pihak berharap agar kemungkinan pertama yang terjadi dimana secara garis besarnya proses erupsi Gunung Agung batal atau ditunda dalam waktu yang cukup lama.

 

Gung Intan

TANGKAS BALI