Program Santripreneur Dukung Implementasi Industri 4.0 di Tanah Air

TANGKASNews – Menteri Perindustrian , Airlangga Hartarto mengatakan Pondok pesantren (ponpes) memiliki potensi dalam mendukung implementasi revolusi industri keempat di Tanah Air. Hal ini berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, di mana salah satu langkah prioritas nasional yang perlu dijalankan adalah memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 

Sehingga Airlangga menyampaikan Kemenprin tengah gencar melaksanakan kegiatan penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di lingkungan pesantren, yang dinamakan program Santripreneur.

 

“Hampir 70 persen, pelaku usaha Indonesia berada di sektor UMKM. Ini merupakan modal yang cukup kuat dalam menghadapi revolusi industri 4.0, “ujar Ketua Umum Golkar ini saat mendampingi Presiden Jokowidodo di Ponpes Bayt Al-Hikmah, Pasuruan, Sabtu (12/5).

 

Ponpes , sambungnya, juga berpotensi besar menciptakan wirausaha baru dan menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM).

 

” Ini tentu anugerah dari Allah SWT yang harus kita syukuri bersama. Potensi kita sangatlah besar dengan ditopang oleh banyaknya kampus dan pesantren di Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain di dunia, ” jelasnya.

 

Menperin mengaku optimis para santri mampu menjadi agen perubahan yang strategis dalam membangun bangsa dan perekonomian Indonesia di masa mendatang.

 

“Maka dari itu, santri kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, baik agama maupun wirausaha. Mereka yang mayoritas generasi milenial, juga perlu menguasai teknologi terkini,” jelasnya.

 

“Kami telah kerja sama dengan sejumlah marketplace dalam negeri untuk memberikan workshop e-Smart IKM ke beberapa daerah di Indonesia. Adik-adik para santri juga harus memanfaatkan peluang ini, “tuturnya menambahkan.

 

Sedangkan Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengutarakan pihaknya menargetkan 18 ponpes yang akan menjadi percontohan dalam pelaksanaan program Santripreneur pada tahun 2018. Ponpes tersebut meliputi delapan di wilayah Jawa Barat, lima di Jawa Tengah, dan lima di Jawa Timur.

 

“Dalam implementasi Santripreneur ini, kami memiliki dua model penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di ponpes, yaitu Santri Berindustri dan Santri Berkreasi,” paparnya.

 

Gati menjelaskan program Santri Berindustri tersebut merupakan upaya pengembangan unit industri yang telah dimiliki oleh ponpes maupun penumbuhan unit industri baru yang potensial. Langkah ini diharapkan mendorong unit industri tersebut menjadi tempat magang para sumber daya manusia di lingkungan pesantren.

 

Sedangkan model Santri Berkreasi , imbuhnya, merupakan program kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih dari beberapa ponpes untuk menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi dan multimedia sesuai standar industri saat ini.

 

Kepada Ponpes Bayt Al-Hikmah di Pasuruan, tutup Gati, Kemenperin memberikan sejumlah bantuan untuk pembangunan fasilitas dan mendorong tumbuhnya wirausaha, antara lain dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) berupa keramik yang dibutuhkan senilai Rp550 juta.

 

Red

Editor : Intan