Polemik Hak Paten Tempe Mendoan

TANGKAS –   Tempe Mendoan makanan khas terbuat dari kacang kedelai yang diracik khusus dengan tepung dan digoreng setengah matang ini sudah ada secara turun-temurun di masyarakat Banyumas, Jawa Tengah.

Beberapa hari ini, Mendoan menjadi topik perbincangan nasional setelah Mendoan mendapatkan hak merek atas nama pribadi.  Hak merek ini dikeluarkan oleh Direktoral Jenderal Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan Hak Azasi Manusia dengan nomor IDM000237714  yang terdaftar pada 23 Februari 2010 dan berlaku hingga 15 Mei 2018.

Pemilik hak merek “Mendoan” ini adalah Fudji Wong, seorang pengusaha yang tinggal di “Sokaraja, Banyumas”.   Alasan Fudji Wong mendaftarkan merek Mendoan ini sebagai langkah antisipasi agar Mendoan tidak didaftarkan oleh warga negara asing seperti halnya kasus hak merek tempe yang dimiliki warga Jepang beberapa tahun lalu.

Polemik hak merek perseorangan tempe Mendoan yang dimiliki Fudji Wong ini tak luput pula mendapat perhatian dari para alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Ketua Pengurus Pusat Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED) Haiban Hadjid menyampaikan bahwa Keluarga Alumni Unsoed siap bertemu dengan Fudji Wong dalam waktu dekat ini.

“Kami siap menjadi mediator sebagai solusi polemik hak merek Mendoan ini. Bagaimanapun Mendoan adalah warisan budaya yang harus menjadi milik masyarakat Banyumas,” kata Haiban pada Sabtu (7/11/2015).

Haiban yakin, Fudji Wong tidak akan keberatan menghibahkan hak mereknya pada masyarakat.  Apalagi selama memegang hak merek tersebut  dari tahun 2010  hingga saat ini  Fudji Wong diketahui  tidak pernah menggugat pihak lain yang berjualan atau menggunakan nama Mendoan sebagai dagangannya.

“Saya yakin beliau tidak akan keberatan dengan ajakan kami untuk menghibahkan hak merek Mendoan ini untuk masyarakat Banyumas.  Seperti yang beliau sampaikan bahwa niatnya mendaftarkan merek Mendoan sekedar menjaga warisan budaya Banyumas ini dari klaim pihak asing,” ungkap Haiban.

Untuk itu, Haiban akan mengajak Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk duduk bersama menyelesaikan polemik hak merek Mendoan ini.  Melalui mediasi dari KAUNSOED, Haiban berharap permasalahan ini bisa bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa menyalahkan salah satu pihak.

“KAUNSOED siap mengajak Pemkab Banyumas untuk duduk bersama menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan ” kata Ketua Umum KAUNSOED periode 2015-2019 ini.   Di sisi lain, Haiban juga menghimbau kepada Direktorat Jenderal Hak dan Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM untuk lebih hati-hati dan selektif dalam menerima pendaftaran merek perseorangan.

“Belajar dari kasus Mendoan ini, maka Ditjen HAKI harus lebih selektif dalam menerima pendaftaran merek.  Jangan sampai setelah Mendoan, nanti Gado-Gado, Pempek, Batagor dan lain-lain yang merupakan warisan kuliner nusantara bisa didaftarkan sebagai merek dan dimiliki oleh pribadi dan disalahgunakan untuk keuntungan bisnis,” tutup Haiban.

Seperti diketahui. sebenarnya segala sesuatu yang merupakan domain public (milik masyarakat umum) seperti halnya Mendoan tidak bisa didaftarkan sebagai merek.  Semoga polemik hak merek Mendoan ini segera berakhir secara kekeluargaan sesuai harapan kita semua.

INTAN

EDITOR : DD BIN