Pesatnya Kemajuan Teknologi Dikawatirkan Menyulitkan Masyarakat Rimba

TANGKAS –  Ketua Forum Koordinasi Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Budhi Santoso mengkhawatirkan masayarakat di komunitas adat terpencil menjadi korban atas proses akulturasi yang dipercepat.

Menurut dia, dibutuhkan perhatian pemerintah untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat rimba.

“Komunitas adat terpencil membutuhkan perhatian khusus. Banyak yang berkaitan dengan proses akulturasi yang dipercepat karena adanya perubahan-perubahan,” ujar Budhi saat memberikan sambutan dalam pertemuan Menteri Sosial dengan Forum Pemberdayaan KAT di Gedung Kemensos, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2015).

Beberapa faktor diakibatkan oleh pesatnya kemajuan teknologi, dan perubahan iklim. Akibat pemanasan global, kondisi alam yang berubah-ubah dapat menyulitkan masyarakat rimba.

Hal lainnya yang mempercepat proses akulturasi adalah pengaruh perkembangan jumlah penduduk. Selain itu, perkembangan pengelolaan kawasan hutan oleh perusahaan perkebunan juga mempersempit kawasan hutan yang selama ini dijadikan tempat bertahan hidup.

Menurut Budhi, dalam sejarah, akulturasi pernah menimbulkan perlawanan-perlawanan, baik secara pasif dan aktif.

Secara pasif dapat dilihat pengasingan diri komunitas adat dari kehidupan masyarakat umum, seperti masyarakat Badui.

Namun, ada juga yang melakukan perlawanan dengan gerakan keagamaan.

“Orang yang berpendidikan tidak terlalu sulit menghadapi ini, tapi bagaimana masyarakat yang tidak terlalu memahami teknologi modern. Kita sudah waktunya memperhatikan komunitas adat terpencil. Itu benih yang sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan kita,” tegas Budhi

INTAN

EDITOR : DD BIN