Pertamina Paparkan Temuan Audit Petral Kepada Kementerian ESDM

TANGKAS – PT Pertamina (Persero) memaparkan temuan audit terhadap Pertamina Energy Trading Limited (Petral) Group yang dinyatakan telah usai prosesnya.

Direktur Pertamina Dwi Sutjipto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, mengatakan hasil audit tersebut telah diberikan kepada pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada 30 Oktober lalu.

“Laporan temuan-temuan ini telah kami sampaikan kepada pemerintah untuk mengambil langkah lanjutan apabila diperlukan,” ujarnya pada senin (9/11) di Jakarta

Dwi menambahkan laporan hasil audit tersebut juga dapat menjadi dasar bagi langkah-langkah perbaikan kebijakan, khususnya dalam proses pengadaan minyak mentah dan produk di masa mendatang.

“Audit ini akan ditindaklanjuti dengan upaya perbaikan dalam kegiatan pengadaan minyak dan produk minyak oleh perusahaan,” katanya.

Dwi menyebutkan terdapat tiga kegiatan terpenting yang sudah dan sedang dilakukan dalam menindaklanjuti audit Petral tersebut.

Pertama, Pertamina adalah “due diligent” terhadap keuangan dan pajak, audit forensik yang dilakukan oleh auditor independen, serta “wind-down process” berupa novasi kontrak, settlement utang piutang, dan pemindahan aset kepada Pertamina.

Dia mengatakan due diligent tersebut akan tuntas pada akhir bulan November ini sedangkan “wind-down process” akan berakhir pada Desember 2015.

Dwi menuturkan audit forensik yang dilaksanakan pada 1 Juli hingga 30 Oktober 2015 tersebut menemukan beberapa hal anomali yang sekaligus dapat menjadi referensi untuk perbaikan sistem baru pengadaan minyak dan produk di masa mendatang oleh “Integrated Supply Chain”.

“Beberapa temuan tersebut meliputi inefisiensi rantai suplai yang meningkatkan risiko mahalnya harga minyak mentah dan produk,”

Dwi menyebutkan adapun beberapa faktor yang berpengaruh meliputi, kebijakan Petral dalam proses pengadaan, kebocoran informasi rahasia, dan pengaruh pihak eksternal.

Selain itu, ditemukan bahwa Petral melakukan penunjukan pada satu penyedia jasa Marine Service dan inspektor.

Dwi juga mengungkapkan likuidasi secara formal akan dapat dilaksanakan setelah seluruh proses tersebut tuntas.

Menurut dia, seluruh tahapan proses likuidasi akan tuntas pada Kuartal I 2016.

“Pertamina melakukan berbagai upaya perbaikan, seperti perbaikan proses bisnis dalam pengadaan minyak dan produk minyak, meningkatkan aspek keterbukaan, dan compliance pemenuhan,” katanya.

Dwi mengatakan Pertamina juga melakukan evaluasi terhadap para mitra penyedia minyak mentah dan produk minyak.

“Kami juga telah melakukan pengawasan lebih baik terhadap operasional lSC, melalui pembentukan Komite Pengawas dan juga pelaksanaan evaluasi kinerja setiap bulan,” katanya.

Dia mengaku telah menunjukkan tren positif, di mana dapat dilihat dari peserta tender yang semakin variatif, harga lebih kompetitif, position tawar semakin tinggi dan menghasilkan efisiensi sebesar 103 juta dolar AS sampai dengan kuartal III 2015,” tegasnya

INTAN

EDITOR : DD BIN