Perdamaian Aceh Jadi Model Penyelesaian Konflik Dunia

TANGKAS – Mantan Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) Pieter Feith, mengatakan proses perdamaian Aceh, kini menjadi model dalam menyelesaikan berbagai konflik di dunia.

Pieter Feith juga mengaku takjub melihat perkembangan proses damai di Aceh pasca-penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Helsinki pada 2005.

“Dalam beberapa kunjungan dan saat bertugas di berbagai tempat saya selalu menceritakan kondisi Aceh yang berhasil menciptakan perdamaian dan menyelesaikan konflik yang terjadi,” ujar Feith, Sabtu (14/11).
“Jadi (proses damai) ini memang pelajaran berharga bagi dunia dan negara-negara yang mengalami masalah yang sama seperti Filipina, Ukraina dan beberapa negara lainnya,” tambah Feith saat menghadiri peringatan 10 tahun proses damai Aceh pasca-MoU Helsinki di Banda Aceh.

“Saya melihat ada hal banyak berubah di Aceh, kini saya sudah bisa melihat masyarakat Aceh kembali tersenyum dan bisa meningkatkan taraf hidupnya yang lebih baik,” tambah dia.

Feith mengakui, kondisi masyarakat Aceh saat perjanjian damai diteken pada 2005 sangat buruk dan menyedihkan.

“Saya bisa merasakan kesedihan masyarakat saat itu apalagi saat itu Aceh baru saja dilanda bencana tsunami, dan kini semua itu sudah tidak terlihat lagi,” ujarnya.

Melaksanakan implementasi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), sebut Feith, hendaknya pemerintah Aceh bisa mendahulukan pemenuhan kebutuhan rakyat, menghindari korupsi, dan meningkatkan kehidupan bertoleransi yang baik.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan, dalam 10 tahun terakhir telah banyak kemajuan yang telah dicapai Aceh.

Meski demikian masih ada beberapa hal yang harus ditingkatkan lagi. Setidaknya proses yang terjadi selama 10 tahun ini menghadirkan sikap optimis bahwa Aceh berjalan ke arah yang lebih baik.

“Yang dibutuhkan adalah kebersamaan dan kekompakan dalam mengisi pembangunan, sehingga perdamaian ini mampu membawa masyarakat Aceh ke gerbang kesejahteraan,” ujar Zaini.

Peringatan 10 tahun perdamaian dia Aceh juga akan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Selain menghadiri kegiatan peringatan 10 tahun damai Aceh, Jusuf Kalla juga akan menerima mendapatkan gelar doktor honouris causa (HC) dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Gelar itu disematkan kepada Kalla yang dianggap sebagai tokoh yang berjasa dalam proses damai Aceh.

 

INTAN

EDITOR : DD BIN