Pengembangan Kawasan Industri Jadi Perhatian Utama Pemerintah

TANGKAS – Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto pada hari ini, Jumat (19/8) didampingi Dirjen Pengembangan dan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin Imam Haryono, Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Harjanto serta dihadiri Bupati Kendal Mirna Annisa, dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Priyo Anggoro melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Industri Kendal (KIK).

Dalam keterangan yang disampaikan Humas Kemenperin, Airlangga mengutarakan Pengembangan kawasan industri menjadi perhatian utama pemerintah karena mampu mewujudkan pemerataan ekonomi ke seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian fokus memfasilitasi pengembangan kawasan industri yang dapat menarik investor baik dalam maupun luar negeri.

“Kawasan industri memegang peranan penting dalam menciptakan keseimbangan wilayah. Salah satunya melalui penyerapan tenaga kerja oleh industri,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, Melalui penyerapan tenaga kerja di kawasan industri, Airlangga meyakinkan, akan tercipta efek berlipat terhadap perputaran ekonomi di lingkungan sekitar.

“Biasanya, satu pabrik menyerap tenaga kerja sekitar 100 orang. Dari satu orang yang bekerja itu pasti butuh makan. Jika diasumsikan, setiap orang mengkonsumsi satu telur setiap hari, berarti sebanyak 100 telur terjual setiap harinya. Selain itu, mereka juga perlu kebutuhan lain seperti kontrakan dan transportasi,” tuturnya.

Airlangga menambahkan Perkiraan kebutuhan tenaga kerja yang diserap oleh suatu kawasan industri dapat pula dilakukan dengan pendekatan luasan areal. Ini merujuk pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40 Tahun 2016 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Kawasan Industri yang menyatakan, satu hektar (ha) kawasan industri dapat menyerap 100 tenaga kerja langsung. “Berdasarkan perhitungan tersebut, kita asumsikan pengembangan 14 kawasan industri dapat menyerap lebih dari 900 ribu tenaga kerja,” ucapnya.

Selain itu, Menperin menuturkan peran kawasan industri terhadap pertumbuhan sektor industri nasional selama ini cukup signifikan, karena mampu berkontribusi sebesar 40 persen dari nilai total ekspor non-migas dan menarik investasi sekitar 60 persen dari total investasi sektor industri.

Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan jumlah kawasan industri di Indonesia tercatat sebanyak 74 kawasan industri dengan total luas lahan mencapai sekitar 30 ribu ha. Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional tahun 2015-2035, pemerintah ditargetkan untuk membangun minimal 36 kawasan industri baru dengan penambahan luas minimal 50 ribu ha. Sedangkan untuk periode 2015-2019, Kementerian Perindustrian memfasilitasi pembangunan 14 kawasan industri di luar Jawa dengan perincian tujuh kawasan industri di wilayah Timur dan sisanya di Barat.

“Kawasan industri di Jawa akan diarahkan untuk fokus pada pengembangan jenis industri tertentu, sedangkan pengembangan kawasan-kawasan industri baru di luar Jawa diarahkan pada industri berbasis sumber daya alam dan pengolahan mineral,”  jelasnya.

Terkait hal ini, Menperin mengutarakan bahwa pihaknya mendorong KIK menjadi pusat industri padat karya, seperti industri furnitur serta industri tekstil dan produk tekstil (TPT). “Karena, di Kendal khususnya dan kota sekitarnya di Jawa Tengah cukup banyak pelaku industri mebel dan fesyen,”  terangnya.

Dalam keterangannya, Airlangga menjelaskan bahwa saat ini KIK sudah masuk investor industri furnitur asal Singapura, yakni PT. Tat Wai Industries. Perusahaan yang membangun pabrik di atas lahan seluas 10 ribu meter persegi dengan nilai investasi USD 2,39 juta ini akan menghasilkan produk furnitur berupa meja, kursi, dan lemari.

Kunjungan Menperin Airlangga kali ini, sekaligus meninjau persiapan peresmian KIK yang rencananya akan dilakukan oleh Presiden Jokowidodo pada 25 Agustus bersama PM Singapura, Lee Hsien Loong .

RED
EDITO R: INTAN