Menteri LHK Sebut AS Berikan Bantuan 2,9 Juta Dollar Untuk Karhutla

TANGKAS – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, Pemerintah Amerika Serikat memberikan bantuan sebesar 2,9 juta dollar AS untuk pemulihan hutan di Indonesia.

“Kemarin Presiden Joko Widodo sudah mengatakan kepada kami bahwa Amerika telah bersedia membantu dengan 2,9 juta dollar AS sebagai permulaan. Sudah tugas kami di kementerian untuk menindaklanjuti itu dengan rencana yang baik,” ujar  Siti di Jakarta, Jumat (13/11).
Siti mengatakan, pihaknya telah menyusun program penanggulangan hutan di Indonesia melalui pemulihan hutan secara besar-besaran, yang memerlukan anggaran tidak sedikit.
Dengan kondisi hutan di Indonesia saat ini, dia melanjutkan, pemulihan diutamakan pada pekerjaan lapangan dengan mengelola lahan, penataan drainase, sekaligus perbaikan regulasi pemanfaatan lahan.
“Restorasi (pemulihan) besar-besaran seperti yang disampaikan Pak Wapres Jusuf Kalla itu tentu memerlukan anggaran yang besar. Maka dari itu, kami berharap tetap ada dukungan internasional,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pemulihan hutan gambut yang terbakar menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
Bencana asap yang terjadi akibat kebakaran hutan gambut di Indonesia disebabkan juga oleh kegiatan penebangan hutan oleh perusahaan-perusahaan asing sejak 1960.
“Tahun 1960-1970-an, datanglah berbagai perusahaan di dunia ini, melakukan penebangan hutan di Indonesia sehingga menyebabkan hutan-hutan di Indonesia mati oleh banyak negara di dunia ini,” ujar Wapres Kalla saat membuka diskusi internasional di Hotel Shangri-La Jakarta terkait solusi krisis kebakaran hutan dan asap.
Banyak perusahaan asing yang menanamkan modalnya di Indonesia dengan mengambil kayu hasil hutan untuk kemudian diproduksi sebagai perabotan di negaranya.
“Kursi yang di Amerika ataupun negara lain itu sebagian besar berasal dari hutan di Indonesia. Karena itu berlebihan, hutan-hutan di Indonesia menjadi gundul dan terjadilah bencana (asap), seperti sekarang ini,” tambahnya.
Oleh karena itu, penyelesaian persoalan kebakaran hutan dan bencana asap yang puncaknya terjadi dalam kurun tiga bulan terakhir memerlukan kerja sama dari berbagai pihak.
NINGSIH
EDITOR : DD BIN