Menperin Tegaskan Industri Fabrikasi Jadi Pasokan Utama Megaproyek Transmisi 46 Ribu KM

TANGKAS – Kementerian Perindustrian menegaskan produsen baja dan fabrikasi komponen (Industri Fabrikasi) menjadi pemasok utama pada megaproyek transmisi listrik sepanjang 46.000 kilometer. Jaringan transmisi ini berperan menyalurkan listrik dari proyek pembangkit 35.000 megawatt.

Pemerintah pusat telah meluncurkan sebuah program yang dirancang untuk memberikan tambahan daya listrik sebesar 35 Gigawatt untuk mengatasi kekurangan listrik. Program ini akan mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik, Jaringan Transmisi, dan Gardu Induk dengan Total Investasi mencapai Rp 1.127 triliun.

“Teknologi dan produk yang terkait transmisi sudah dapat kita produksi sejak lama. Di hulu, Krakatau Steel juga sanggup memasok baja yang digunakan perusahaan konstruksi tower dan industri fabrikasi membuat komponen,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin di Jakarta pada Sabtu (14/11).

Kemampuan industri nasional itu ditopang juga oleh kesiapan pelaku usaha seperti yang tergabung dalam Asosiasi Pabrikan Tower Indonesia (ASPATINDO), Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (APKABEL) dan Indonesian Iron & Stell Industry Association (IISIA).

Dari sisi peraturan, Kemenperin telah memberikan ketentuan mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan melalui Peratutan Menteri Perindustrian Nomor 54 tahun 2012 Tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri Untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

Sejalan dengan peraturan ini, pemerintah ingin menyediakan pangsa pasar untuk produsen peralatan listrik dalam negeri. Pemihakan pada industri dalam negeri itu juga demi mengoptimalkan kapasitas produksi industri logam, baja dan kelistrikan yang berujung pembukaan lapangan kerja dan meningkatnya arus investasi.

Selain menetapkan industri dalam negeri selaku pelaksana pembangunan tower transmisi, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian bersama dengan industri dalam negeri telah menyusun usulan harga satuan tower yang sedang dalam proses review tim Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Hasil review BPKP menjadi dasar penetapan harga tower yang akan disampaikan kepada PLN sebagai dasar pelaksanaan proses pengadaan tower transmisi. Kami bersama dengan industri dalam negeri telah menyusun usulan harga satuan tower yang sedang dalam proses review tim BPKP,” ujas Saleh.

Selanjutnya, hasil review BPKP akan menjadi dasar penetapan harga tower yang akan disampaikan kepada PLN sebagai dasar pelaksanaan proses pengadaan tower transmisi

Kemenperin mencatat ada 15 perusahaan tower antara lain Bukaka Teknik Utama, Gunung Steel, Armindo Caturpratama dan Twink Indonesia. Sementara, industri baja terdapat paling sedikit 12 perusahaan antara lain Krakatau Steel, Krakatau Posco, Gunawan Dianjaya, Gunung Garuda dan Bakrie Pipe Industries. Untuk kabel, belasan industri ini siap memasok seperti Jembo Cable, KMI Wire, Sumi Indo dan Sucaco.

Perusahaan konstruksi nasional juga kebagian rezeki proyek ini. Antara lain kontraktor pelat merah Wijaya Karya, PT PP, PAL, Metaepsi, Rekadaya Elektrika, dan Indika Energi.

Dukungan Menperin juga disusul dengan permintaan akan kualitas produk.

“Ini proyek strategis yang dibutuhkan konsumen listrik rumah tangga hingga industri kecil, menengah dan besar. Maka produsen baja dan komponen transmisi harus mampu tepat waktu memproduksi, delivery-nya harus dipastikan karena kalau terlambat membuat semua jadi molor,” katanya.

Produk juga harus memiliki daya tahan (reliability) sesuai standar yang dibutuhkan.

Rencananya, jaringan listrik itu terdiri dari transmisi 150 KV, 275 KV dan 500 KV yang akan dibangun selama 10 tahun mulai 2015 hingga 2024. Di antara ketiganya, transmisi 150 KV menjadi jaringan terpanjang yaitu hingga 40.413 km.

“Di transmisi 150 KV saja, setiap satu kilometer butuh 3 unit tower. Berat satu tower 10 ton atau 30 ton per km. Dengan gambaran itu maka proyek ini dapat menggerakan industri baja nasional,” tegas Saleh.

Sementara untuk transmisi 275 KV, jumlah tower sebanyak 2,5 unit per km dengan berat 45 ton per km. Jaringan transmisi 500 KV membutuhkan 2 unit per km dan berat tower 80 ton per km.

Produsen komponen nasional juga diyakini berperan dan menikmati proyek ini seperti pabrikan kawat penghantar (konduktor) dan insulator keramik. Kebutuhan masing-masing komponen tersebut ialah 9,3 ton per km dan 346 unit per km. MegaProyek transmisi juga membutuhkan fitting dan asesoris.

NINGSIH

EDITOR : DD BIN