Menelisik Badan Siber Negara Bentukan Presiden Jokowidodo

TANGKASNews – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) secara resmi beroperasi pada hari ini , Rabu (3/1) setelah Presiden Jokowi melantik Mayor Jendral Djoko Setiadi menjasi Kepala BSSN .

 

BSSN dibentuk sebagai lembaga pemerintah berdasarkan  Perpres No. 133/2017 sebagai hasil revisi sebelumnya No.53/2017.

 

Alhasil Revisi tersebut, BSSN bentukan pemerintahan Jokowi JK ini berada langsung dibawah Presiden Jokowidodo, di pimpin seorang Kepala dan dibantu dibantu oleh seorang wakil kepala.

 

Selain itu  dalam menjalankan tugasnya , Kepala BSSN ini dibantu oleh sekretariat utama dan empat deputi yakni Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi; Deputi Bidang Proteksi; Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan; Deputi Bidang Pemantauan dan Pengendalian.

 

Terbentuknya BSSN Presiden Jokowi ini dapat dikatakan untuk mempersempit gerak kelompok kelompok radikal yang ingin mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa melalui dunia maya atau media sosial seperti halnya grup Saracen .

 

Diawal pembentukannya, BSSN mempunyai delapan fungsi diantaranya, identifikasi, deteksi, proteksi dan penanggulangan e-commerce,persandian, diplomasi siber, pusat manajemen krisis siber, pemulihan penanggulangan kerentanan, insiden dan/atau serangan siber.

 

Selain itu terbentuknya BSSN juga berperan dalam pelaksanaan seluruh tugas dan fungsi di bidang keamanan informasi, pengamanan pemanfaatan jaringan telekomunikasi berbasis protokol internet, dan keamanan jaringan dan infrastruktur telekomunikasi pada Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Lembaga Sandi Negara.

 

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengutarakan latar belakang terbentuknya BSSN ini adalah guna mengantisipasi perkembangan dunia siber yang begitu cepat.

 

“Terutama dalam mengantisipasi perkembangan dunia siber yang pertumbuhannya cepat sekali,”  ucap Presiden Jokowi usai melantik Mayjen Djoko Setiadi menjadi Kepala BSSN di Istana Negara, Rabu (3/1).

 

Diharapkan, hadirnya BSSN sebagai lembaga pemerintah ini tidak ada lagi kelompok radikal yang mengadu domba bangsa Indonesia melalui dunia siber .

 

Red

Editor : Intan