MEA Sebagai Momentum Lahirnya Kelompok Menengah Yang Mendunia

TANGKAS – MEA 2015 merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara, lebih dari itu MEA pun bisa dijadikan sebagai momentum untuk melahirkan banyak kelompok menengah yang mendunia. Hal itu disampaikan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Agus Muharram dalam acara Seminar Nasional di gedung Joeang, Jakarta, Sabtu (7/11/2015).

“Orang kelas menengah nanti bisa mendunia. Mereka (negara lain) juga belum siap, sehingga kita tidak perlu khawatir,” ujar Agus Muharram di hadapan 500 mahasiswa Universitas Mercu Buana Jakarta, peserta seminar bertajuk “Nasional Seminar Menghadapi Era MEA”.

Agus mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia dihuni oleh 56,6 persen kelompok menengah. Parameter kelas menengah, merupakan kelompok masyarakat yang membelanjakan uang per harinya dengan kisaran dua dollar AS hingga 20 dollar AS.

“Indonesia Hebat, dari Sabang sampai Merauke. Secara geogragis Indonesia sudah cukup menarik. Negara dengan demokrasi terbesar ketiga ini 56,6 persen-nya adalah kelas menengah, artinya orangnya sudah hidup sejahtera,” katanya.

Untuk diketahui, Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA menjadi sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota-anggota di dalamnya.

MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang dapat menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN.

Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia.

Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi  lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu.

MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi Indonesia.

Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh keuntungan. Namun demikian, Indonesia masih memiliki banyak tantangan dan risiko-risiko yang akan muncul bila MEA telah diimplementasikan.

“Tentu masih ada tantangan MEA, seperti misalnya konsentrasi ekonomi, ketergantungan bahan impor, kesiapan SDA, Infrastruktur serta akses modal,” ungkap Agus.

Kemenkop dan UKM memiliki concern dan komitmen dalam mendukung upaya mengantisipasi pelaksanaan MEA melalui koordinasi, sinkronisasi, sinergi dan kerjasama mulai dari aspek hulu, middle dan hilir dalam kerangka pemberdayaan pemberdayaan Koperasi dan UMKM.

INTAN

EDITOR : DD BIN