Lonjakan Pengungsi Gempa Aceh Mencapai 83 Ribu Jiwa

TANGKAS – Hingga Senin (12/12) jumlah pengungsi korban gempa aceh yang berkekuatan 6,5 SR di Kabupaten Pidie mencapai 83 ribu dengan pengalokasian mencapai 124 titik.

Berdasarkan keterangan dari Wakil Bupati Pidie Jaya Said Mulyadi menyampaikan bahwa Data pengungsi yang terus melonjak harus dicermati. “Kami akan mengambil sikap penanganan selanjutnya guna menghindari lonjakan pengungsi,” ujar Komandan Satgas Tanggap Darurat di Pidie Jaya, Senin (12/12).

Said menambahkan penyaluran logistik langsung ke desa/gampong masing-masing sesuai dengan jumlah jiwa dari kepala keluarga dengan bantuan yang disalurkan disepakati untuk kebutuhan pokok, beras, minyak goreng, telur, dan gula.

“Kita sepakati kita buat rekap kebutuhan selama tujuh hari,”  ujarnya.

Menurutnya, Ada pun pengungsi yang masuk dalam data Posko Utama tersebut terdiri dari Pidie Jaya sebanyak 82.122 orang di 120 titik dan 1.716 orang di empat titik di Kabupaten Bireuen.

Said memaparkan bahwa distribusi 82.122 pengungsi di Pidie Jaya tersebar di Kecamatan Meureudu 13.965 orang, Meurah Dua (11.391), Trianggadeng (18.512), Bandar Baru (14.209), Pante Raja (8.153), Bandar Dua (3.170), Ulim (9.763), dan Jangka Buaya (2.959) orang. Sedangkan 1.716 orang pengungsi di Bireuen tersebar di Matang Mns Blang 1.100 orang, Masjid Matang Jareung 13, Masjid Alghamamah 405, dan Masjid Kandang 198 orang.

“Data terkait kerusakan infrastruktur, rumah, ruko, fasilitas umum (kantor pemerintah, pendidikan, masjid) lain belum kita terima dengan sempurna. Camat juga telah diperintahkan sampai hari ini untuk menyampaikan sebagai data sementara,”  terangnya.

Sedangkan data kerusakan rumah, tambah said, rumah yang hancur, rusak berat, sedang dan ringan harus segera didata dan dilaporkan ke Posko Utama karena diperlukan terkait dengan rencana pemerintah memberikan bantuan stimulan.

Ditempat yang terpisah, Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan menindaklanjuti perintah Presiden dalam percepatan penanganan darurat maka hal ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga pelayanan dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Data dampak bencana harus secepatnya dituntaskan. Kalau tidak ada database yang valid, kita sulit untuk selesaikan pekerjaan ini. Salah satunya adalah jumlah pengungsi,”  tegasnya.

RED

EDITOR : INTAN