Keinginan MUI Tayangkan Kembali Film G30S PKI

TANGKAS – Setelah berkuasa selama 32 tahun, Soeharto lengser keprabon oleh gerakan reformasi pada 21 Mei 1998. Setelah penguasa Orba itu terjungkal, film Pengkhianatan G 30 S/PKI tidak lagi ditayangkan di televisi.

Di era Orde Baru (Orba) film Pengkhianatan G 30 S/PKI rutin ditayangkan di TVRI setiap tanggal 30 September. Sebelumnya film itu diputar di bioskop. Film yang disutradarai Arifin C. Noer itu mengisahkan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965. Film itu juga menggambarkan peran besar Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Soeharto dalam memberantas PKI.

Berkat perannya dalam menumpas PKI tersebut popularitas Soeharto melejit. Ia kemudian menjadi Presiden kedua RI, menggantikan Ir. Soekarno atau Bung Karno.

 

Kini muncul keinginan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar film yang dibintangi Amoroso Katamsi dan Umar Kayam itu ditayangkan kembali di TV pada setiap tanggal 30 September.

“Film G30S/PKI harus selalu diputar kembali di seluruh televisi pada tahun-tahun mendatang,” kata Ketua MUI KH Cholil Ridwan di sela-sela peringatan pengkhianatan G30S/PKI yang diselenggarakan Umat Islam Bersatu di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2015).

Menurutnya, pemerintah harus mendorong pemutaran film itu untuk mengingatkan generasi penerus atas kekejaman PKI. Selain itu, ia juga meminta agar sejarah mengenai kekejaman PKI kembali dituliskan dalam buku pelajaran sejarah mulai tingkat SD.

Cholil mengungkapkan, cerita kekejaman PKI selama ini sudah dihapuskan dalam buku sejarah SD dan SMP, sehingga sejarah kekejaman PKI pada tahun 1965 bisa diputarbalikkan.

“Padahal PKI telah mengawali kekejaman pada tahun 1948 dan jika sukses pasti terjadi kudeta oleh mereka, karena itu sejarah jangan hanya dilihat pada tahun 1965 tanpa melihat tahun 1948,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, masyarakat juga harus menolak timbulnya angkatan kelima PKI, yaitu petani yang dipersenjatai. “Simbol patung petani dipersenjatai itu harus kita tolak,” tandasnya.

INTAN

EDITOR : DD BIN