Inilah Spesifikasi Drone Militer Untuk Pantau Kawah Gunung Agung

TANGKASNews – Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  bersama PT Carita Boat Indonesia pada hari  ini, Rabu (11/10) telah melakukan survey kondisi puncak Gunung Agung dengan menggunakan Drone.

 

Perlu diketahui, Drone ini merupakan suatu kendaraan udara yang berbentuk seperti pesawat terbang atau helikopter yang dioperasikan tanpa menggunakan awak atau pilot.

 

Menurut keterangan Kepala BNPB Willem Rampangilei di Karangasem, Bali hari ini, Rabu (11/10) menuturkan pihaknya menggunakan tiga Drone dalam melakukan pemantauan langsung kondisi perkembangan aktivitas vulkanik puncak kawah Gunung Agung.

 

Ketiga Drone tersebut, terang Willem, adalah Drone jenis tawon, Koak 3.0 dan multiroter.

 

Untuk Tawon dan Koak 3.0 , ujar Willem , mampu dioperasikan di ketinggian 4.000 meter, dengan jam terbang tiga jam. “Sedangkan Drone multiroter dapat dioperasikan pada ketinggian mencapai 500 meter,” imbuhnya.

 

Kendati demikian, Willem mengatakan ketiga drone ini digunakan untuk melakukan survei berupa dokumentasi video dan foto di kawah dan sekitar  Gunung Agung melalui udara.

 

Willem menjelaskan bahwa untuk survei awal, tim menggunakan drone mavic di tiga lokasi yakni di Pura Pasar Agung Selat, Rumah Pohon Tulamben dan di Kecamatan Kubu.

 

“Sementara itu dari pemantauan visual dari pos pengamatan di Desa Rendang berjarak sekitar 12 kilometer dari Gunung Agung, gunungapi itu masih tertutup kabut tebal,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, Willem mengutarakan ketiga jenis Drone yang digunakan untuk memantau situasi puncak kawah Gunung Agung ini bukanlah Drone Jenis Biasa, melainkan Drone Jenis Militer yang membutuhkan area lepas landas minimal 300 meter.

 

Selain sebagai alat dokumentasi, tambah Willem , ketiga Drone militer ini jug digunakan untuk memeriksa infrastruktur, ternak, dan aktivitas di lereng Gunung Agung. “Drone akan mengelilingi jalur kawah, jalur merah, atau jalur lahar dingin. Apakah sudah ada keretakan atau belum,” paparnya.

 

Selain itu Ketiga Drone militer ini, tutup Willem, juga berfungsi untuk memantau apakah masih ada warga yang masih berada di kawasan merah ( berbahaya ) atau tidak.

 

Sebelumnya , Direktur Pemulihan Peningkatan Sosial Ekonomi BNPB, Agus Wibowo di Karangasem Bali mengatakan daya baterai drone KOAK 3.0 bisa digunakan 2-4 jam.”Drone akan mengelilingi jalur kawah, jalur merah, atau jalur lahar dingin. Apakah sudah ada keretakan atau belum. Mungkin drone akan dioperasikan 2-4 hari. Setelah itu baru bisa dipetakan,” pungkasnya

 

Gung Intan (Tangkas Bali)

Editor : Intan