Indonesia Punya Deposit Industri Logam Jarang Dalam Jumlah Besar

TANGKAS – Potensi bahan baku logam di dalam negeri yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal merupakan peluang yang baik untuk meningkatkan daya saing produkmother of industry ini.

Demikian yang disampaikan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dalam acara pembukaan Pameran Produk Logam 2016 di Plaza Kemenperin Jakarta.

Pameran yang mengusung tema “Peningkatan Pangsa Pasar Domestik Produk Industri Logam Guna Mewujudkan Industri yang Berdaya Saing” ini digelar selama tiga hari, tanggal 24-26 Agustus 2016 dan dibuka untuk umum mulai pukul 10.00-17.00 WIB. Pameran ini menempati total 44 stan, pameran ini diikuti sebanyak 35 perusahaan anggota asosiasi seperti Indonesian Iron dan Steel Industry Association(IISIA), Asosiasi Produsen Aluminium Ekstrusi Indonesia(APRALEX), Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia(AP3I), Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia(APKABEL), Asosiasi Produsen Kompor Gas Indonesia(APKOGI), Asosiasi Industri Tabung Baja (ASITAB), serta Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) Bandung.

Airlangga dalam acara tersebut menyampaikan Penggunaan bahan baku logam domestik terus ditingkatkan untuk pemanfaatan secara optimal di industri hilir. Untuk itu, Kementerian Perindustrian memacu pengembangan industri logam berbasis sumber daya lokal karena prospek sektor induk ini di masa mendatang masih cukup potensial.

Selanjutnya, Menperin menambahkan industri logam disebut sebagai mother of industry karena produk logam dasar merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lain, diantaranya industri otomotif, maritim, elektronika, serta permesinan dan peralatan pabrik. “Salah satu yang perlu dikembangkan saat ini adalah logam rare earth atau tanah jarang,” ucapnya.

Menurutnya, Logam Tanah jarang dan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan magnet energi. “Material ini telah diaplikasikan untuk mobil hybrid. Kami juga tengah melakukan riset di Balai Besar Logam dan Mesin, Bandung agar bisa dimanfaatkan oleh industri dalam meningkatkan daya saing produk,” jelasnya.

Airlangga optimis  Indonesia memiliki deposit logam tanah jarang dalam jumlah cukup besar seperti di Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Dalam sambutannya, Menperin menegaskan perlu adanya keberpihakan Pemerintah terhadap perlindungan produk industri dasar tersebut untuk menekan penggunaan jumlah produk impor dan mendorong tumbuhnya industri logam dalam negeri.

RED
EDITOR : INTAN