Hari Sumpah Pemuda, PDIP Usulkan UU Perlindungan Bahasa Indonesia

TANGKASNews – Hari ini, Senin, 28 Oktober 2019 bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yang menjadi salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Dimana Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Pengamat Politik dan Ekonomi, Iwan Siswo angkat bicara terkait makna dari Perayaan Sumpah Pemuda di era milenial sekarang ini.

Menurutnya, Salah satu putusan Kongres Pemuda pada 27-28 Oktober 1928 lalu adalah Berbahasa Satu Bahasa Indonesia itu menjadi suatu Bahasa Revolusi.

” Hasil konkrit Sumpah Pemuda adl Bahasa Indonesia yg bagi Iwan Siswo adalah Bahasa Revolusi, ” ujar Politisi PDIP dalam keterangan tertulisnya pada Senin Sore (28/10).

Iwan menambahkan Bahasa Indonesia juga merupakan Bahasa setengah Roh Kudus.

Mengapa Bahasa Indonesia disebut sebagai Bahasa Setengah Roh Kudus, Iwan Menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia ini adalah Satu bahasa yg dimengerti oleh setiap orang di Indonesia yg memiliki 700an lebih bahasa daerah.

“Satu bahasa yg mempersatukan ratusan suku yg tersebar dalam 14.000an pulau,” sambung penulis Buku Panca Azimat Revolusi Soekarno ini.

Untuk itu , Iwan mengutarakan Pemerintahan Jokowi Maaruf harus memberikan perhatian khusus terhadap Bahasa Indonesia ini.

“Saya mengusulkan agar entah itu inisiatif DPR RI atau Pemerintah agar dibuatkan UU Perlindungan Bahasa Indonesia sehingga selalu ada terjemahan Bahasa Indonesia untuk setiap penggunaan Bahasa Inggris di televisi, iklan-Iklan,nama-nama restoran, cafe-cafe , dan lainnya,” paparnya.

Dalam buku Panca Azimat Revolusi Soekarno yang ditulisnya, Iwan memberikan kutipan terkait Bahasa Indonesia itu merupakan sebagai Bahasa Revolusi.

“Ambol betapa lndah bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Karena naskah-naskah tersebut ditulis sejak 1926. ketika bahasa Indonesia belum menjadl bahasa persatuan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebagal bahasa nasional-baru resmi dlnyatakan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928; dan bahasa Indonesia merupakan produk paling konkret dari Sumpah Pemuda hari itu. Kita Harus Bangga akan Bahasa Indonesia, Bahasa Revolusi,” terang Iwan.

Kutipan ini tegasnya, merupakan prolog Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri dalam Buku Panca Azimat Revolusi Soekarno bersama Ketua DPR, Ibu Puan Maharani.

” Ibu Puan Maharani merupakan Wanita pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR selama Gedung Parlemen ini berdiri,” tutupnya.

Red
Editor : Intan

TANGKASNews – Hari ini, Senin, 28 Oktober 2019 bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yang menjadi salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Dimana Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Pengamat Politik dan Ekonomi, Iwan Siswo angkat bicara terkait makna dari Perayaan Sumpah Pemuda di era milenial sekarang ini.

Menurutnya, Salah satu putusan Kongres Pemuda pada 27-28 Oktober 1928 lalu adalah Berbahasa Satu Bahasa Indonesia itu menjadi suatu Bahasa Revolusi.

” Hasil konkrit Sumpah Pemuda adl Bahasa Indonesia yg bagi Iwan Siswo adalah Bahasa Revolusi, ” ujar Politisi PDIP dalam keterangan tertulisnya pada Senin Sore (28/10).

Iwan menambahkan Bahasa Indonesia juga merupakan Bahasa setengah Roh Kudus.

Mengapa Bahasa Indonesia disebut sebagai Bahasa Setengah Roh Kudus, Iwan Menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia ini adalah Satu bahasa yg dimengerti oleh setiap orang di Indonesia yg memiliki 700an lebih bahasa daerah.

“Satu bahasa yg mempersatukan ratusan suku yg tersebar dalam 14.000an pulau. Bahasa Indonesia adalah Bahasa (setengah Roh Kudus) karena dimengerti dan menjadi alat komunikasi untuk mencapai kemerdekaan,”sambung penulis Buku Panca Azimat Revolusi Soekarno ini.

Untuk itu , Iwan mengutarakan Pemerintahan Jokowi Maaruf harus memberikan perhatian khusus terhadap Bahasa Indonesia ini.

“Saya mengusulkan agar entah itu inisiatif DPR RI atau Pemerintah agar dibuatkan UU Perlindungan Bahasa Indonesia sehingga selalu ada terjemahan Bahasa Indonesia untuk setiap penggunaan Bahasa Inggris di televisi, iklan-Iklan,nama-nama restoran, cafe-cafe , dan lainnya,” paparnya.

Iwan menyampaikan bayangkan situasi Kongres ll Pemuda 28 Oktober 1928 ketika utusan – utusan datang dari seluruh wilayah India-Belanda termasuk Papua, yang bicara kasih sambutan dalam bahasa daerah mereka masing-masing bahkan ada yang dalam Bahasa Belanda. “Semua sepakat bahwa Bahasa Indonesia adl bahasa persatuan melawan penjajahan. Itulah sebabnya Bahasa Indonesia disebut sebagai Bahasa Revolusi. Bahasa kemerdekaan anti-penjajahan,” jelasnya

Maka dari itu Iwan menghimbau kepada Generasi Muda Revolusi 4.0 Indonesia, juga pemerintahan Jokowi-Ma’aruf Amin menghargai, menghormati, dan melindungi Bahasa Indonesia dari serangan bertubi-tubi dari bahasa asing.

Dalam buku Panca Azimat Revolusi Soekarno yang ditulisnya, Iwan memberikan kutipan terkait Bahasa Indonesia itu merupakan sebagai Bahasa Revolusi.

“Ambol betapa lndah bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Karena naskah-naskah tersebut ditulis sejak 1926. ketika bahasa Indonesia belum menjadl bahasa persatuan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebagal bahasa nasional-baru resmi dlnyatakan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928; dan bahasa Indonesia merupakan produk paling konkret dari Sumpah Pemuda hari itu. Kita Harus Bangga akan Bahasa Indonesia, Bahasa Revolusi,” terang Iwan.

Kutipan ini tegasnya, merupakan prolog Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri dalam Buku Panca Azimat Revolusi Soekarno bersama Ketua DPR, Ibu Puan Maharani.

” Ibu Puan Maharani merupakan Wanita pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR selama Gedung Parlemen ini berdiri,” tutupnya.

Red
Editor : Intan