Hakikat Qurban Dalam Perayaan Idul Adha 1436 H

TANGKAS  – Dari sekian banyak tujuan Ibadah Qurban, diantaranya adalah membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Sedikitnya ada 4 sifat kebinatangan yang harus dibunuh dalam diri manusia.

Sifat-sifat kebinatangan itu antara lain rakus, keras kepala, tidak selektif dan tidak memiiki rasa malu. Ketika seseorang berqurban sapi, kambing atau domba yang dilihat kemungkinan hanya fisik yang besar dengan bulu yang lebat, seperti halnya sapi jenis Limousin dan Simental yang memiliki berat badan mencapai 850 kg dengan tingkat pertambahan bobot badan mencapai 1,1 kg perharinya. Ataupun domba yang memiliki badan yang tegap, bulu yang lebat, tanduk menjulur ke atas dan telinga yang lebar ke atas.

Ternyata ketika dipelajari secara mendalam hewan qurban ini seperti layaknya hewan lainnya memiliki sifat kebinatangan yang tidak patut untuk ditiru bahkan diikuti prilakunya. Sapi, kerbau, domba dan kambing setiap diberi makanan selalu membuka mulutnya, mamakan, mengunyah kemudian menelannya, seekor binatang tidak pernah menolak pemberian makanan sangat rakus dan tidak pernah akan berhenti untuk makan.

Bagi binatang hidup untuk makan, karena tidak ada lagi kegiatan dan pekerjaan yang digelutinya hanyalah makan dan minum. Binatang pun terkenal dengan keras kepala, ketika dikendalikan oleh pemiliknya untuk membajak sawah misalnya, selama tidak disuruh untuk berbelok, memutar arah atau berhenti itupun harus dipecut, maka seekor binatang akan terus seperti itu berjalan terus walupun harus bertubrukan dengan benda lain di depannya atau tonggoy/ndableg tidak mampu menerima nasehat.

Adakalanya seekor binatang sakit atau bahkan sampai mati karena makanan yang dimakannya bermasalah, entah karena rumput yang dimakan tercampur dengan karet atau ada benda lain yang membuatnya sakit dan mati, Binatang tidak mampu memilih dan memilah makanan yang dimakannya, apapun yang diberikan pemiliknya pasti dimakannya tanpa memprotes ataupun menutup mulutnya. Binatang juga tidak pernah merasa malu akan fisiknya yang diobral terlihat semua orang atau binatang lainnya, tidak pernah kita melihat seekor hewan yang mengenakan baju, celana atau menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian, kecuali di acara sirkus atau doger monyet.

Itulah sifat binatang yang tidak memiliki akal dan perasaan, sementara manusia yang dianugerahkan nafsu, akal dan perasaan sepertinya jauh akan berbeda sifatnya dengan binatang atau hewan. Namun pada tingkatan tertentu sifat manusia ternyata bisa seperti binatang, tatkala seorang manusia jatuh pada derajat yang paling rendah, bahkan sifat-sifatnya jauh lebih rendah dari binatang ternak seperti sapi dan kambing yang kerapkali diqurbankan.

Al-quran surat Al Furqon 25 : 43-44 yang artinya : “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”

Ketika seorang manusia menjadikan hawa nafsu sebagai prioritas hidupnya, maka jatuhlah sifatnya seperti binatang. Binatang hanya memiliki nafsu birahi dan instink waka wajarlah ketika kelakuannya didominasi kebinatangan, namun seorang manusia dengan jenis yang paling sempurna ‘Ahsani Taqwim” tentunya lebih berharap didominasi sifat kemanusiaan. Sehingga mata, telinga, tangan dan kaki yang dimiliki seorang manusia dapat dikendalikan dengan akal dan hatinya. Tidak rakus, selektif terhadap makanan yang dimakan, Bukan makanan haram, tidak dengan cara haram, menjalankan perbuatan yang halal dan malu untuk berbuat yang haram dan syubhat, perbuatan memakan uang yang bukan haknya, seperti pekerjaan seorang koruptor, berzina, prostitusi, mengkonsumsi alkohol dan perbuatan lainnya yang sangat tidak terpuji, maka sangatlah wajar jika Allah SWT menghancurkan kaum Sodom dan Gomora ketika mereka mengumbar nafsu syahwatnya.

Sifat manusia kerapkali juga diumpamakan dengan keledai yang rakus terhadap kekuasaaan, apapun dan berapapun beban yang ada pada punggungnya tidak pernah diprotes. Sebagai gambarannya amanat dan tanggung jawab apapun terus dipikul tanpa memikirkan mampu tidaknya menjalankan amanat tersebut, namun ketika beban yang dipikulkan tersebut melebihi bebannnya keledaipun “ngadeprok’/tersungkur menjerit meminta pertolongan kesana kemari.

Perumpamaan keledai ini digambarkan terhadap orang Yahudi yang kerapkali rakus akan kekuasaan tanpa memikirkan mampu tidaknya menjalankan amanat tersebut Fir’aun yang mengaku Tuhan, Raja Namrud yang tidak mau mengalah serta Abu Jahal yang keras kepala. Pada kisah Nabi Musa AS menyuruh orang Yahudi untuk menyembah Allah SWT, mereka justru membuat tandingan berupa patung sapi yang dianggapnya lebih real dan dapat dilihat secara kasat mata, sifat-sifatnya uang materialis inilah kaum Yahudi tidak pernah dapat menilai manusia akan kebaikannya, penilaiannya hanyalah sebanyak apa materi yang dimiliki. Ketika kaum Yahudi berhadapan dengan Fir’aun sebagai penjajahnya mereka mengeluh, begitupun ketika sudah bebas merekapun kembali mengeluh, setiap mendapatkan makanan berupa Manna dan Salwa kaum Yahudi selalu mengeluh dengan alas an tidak enak untuk dimakan, tanpa merasa bersyukur dan berterimakasih.

Perintah berqurban yang melalui proses cukup panjang diabadikan dalam Alquran Surat Asshaafaat 100-111, penggambaran betapa kasih sayangnya seorang ayah (Nabi Ibrahim) kepada anaknya (Nabi Ismail). Seorang anak diajak ngobrol untuk dapat menterjemahkan makna dari mimpi seorang Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya. Sebuah diskusi yang sangat panjang dan penuh dengan kasih sayang itu pun terjadi, Ibrahim meminta anaknya untuk mengartikan perintah Allah untuk menyembelihnya. Apa jawaban dari anaknya “Fandhur Mada Taraa” lakukanlah apa yang Allah perintahkan kepamu ya Ayah. Sebuah jawaban dari anak sholeh jauh dari sifat kebinatangan yang pasti akan menolaknya. Sehingga benarlah apa yang dikatakan pepatah “Ma Fil Abaa Fi Abna”, “Like Father Like Son” “ uyah mah tar te es kaluhur”, Ismail Sholeh karena Ibrahim, sehingga terkenal dengan Abul Anbiya bapaknya para Nabi.

Keimanan yang kuat dari seorang Ismail dengan menerima perintah Allah untuk disembelih bukanlah perjuangan yang ringan. Sifat kemanusiaan yang muncul dari diri Ismail dan Ibrahim tidak berarti mengesampingkan rasa kasihan seorang ayah terhadap anaknya, atau pun sifat perlawanan anak terhadap ayahnya, namun semata-mata keimanan yang mengakar sehingga menimbulkan keberanian untuk berkorban. Kepasrahan diri inilah yang tidak dimiliki seekor binatang. Meskipun pada akhirnya fisik Ismail pun diganti dengan seekor kibas atau domba, namun perjuangannya sebelum itu terjadi sangatlah berat, Hal ini mengandung makna untuk memperoleh suatu kebenaran diperlukan perjuangan dan kesabaran sebagai perpaduan antara akal, perasaan dan nafsu.

Perjuangan yang dialami Nabi Ibrahim AS tidaklah mudah, sifat-sifat kebinatangan dari Raja Namrud membuat Ibrahim dibakar hidup-hidup, namun karena pertolongan Allah SWT api yang membakar Nabi Irahim tidak mampu membakarnya, namun justru Raja Namrud sebagai penguasa saat itu mati dengan mengenaskan yang konon akibat telinga Namrud kemasukan nyamuk, akhirnya Namrud pun menjedutkan kepalanya berkali-kali ke tembok dan matilah Raja tersebut.

Hewan Kurban Berupa Sapi dalam Perayaan Idul Adha 1436 H
Hewan Kurban Berupa Sapi dalam Perayaan Idul Adha 1436 H

Sifat yang dimiliki Raja Namrud, Fir’aun dan tokoh-tokoh buruk yang digambarkan Alqur’an cukuplah bagi kita untuk dapat menjauhi sifat-sifat kebinatangannya, rakus, keras kepala, tidak mau menerima nasehat orang lain, ingin menang sendiri, egois, tidak memiliki rasa malu dan lalin-lain. Ibadah qurban yang kita keluarkan selain bertujuan mencapai ridha Allah dengan menggapai taqwa juga diharapkan dapat membunuh sifat-sifat kebinatangan yang disebutkan dalam Alquran.

Sehingga pada akhirnya ibadah qurban yang dilakukan Nabi Ibrahim kepada anaknya Nabi Ismail sampailah kepada kita, tujuan menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia agar berbuat lebih baik pada waktu yang akan datang dan menjelang kematian. Sehingga semua yang dijalankan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dengan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat (Shalat Idul Adha). Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun/bukan ibadah qurban.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)

Ibadah qurban yang kita keluarkan semoga menjadi ibadah yang diterima Allah SWT, termasuk yang dikeluarkan oleh para jamaah haji di tanah suci semoga semua ibadah tersebut mabrur. Disisi lain kita juga berharap seperti halnya dalam Hadits Qudsi “Wahai Bani Adam, Pindahkanlah simpananmu kepada-Ku dan janganlah habis karena kebakaran, kebanjiran bahkan kecurian. Aku akan mengembalikannya kembali (tunai) kepadamu, saat engkau sangat memerlukannya” . Wallahu A’lam Bishawab.

Seluruh Staf dan Redaksi TangkasNews.Com Mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H”, bagi yang merayakannya

EDITOR : DD BIN