Hadapi MEA, Kemenperin Gelar Diklat Berbasis 3 in 1

TANGKAS  – Dalam rangka menyiapkan SDM Industri dan Tenaga Kerja yang mempunyai daya saing dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Kementerian Perindustrian menggelar pelatihan dengan menerapkan sistem 3 in 1 yang terdiri dari pelatihan, sertifikasi, dan penempatan .

Pendidikan Vokasi yang dilaksanakan Kemenperin ini digelar di Balai Diklat Industri (BDI) dan diikuti oleh 300 siswa, pada Senin (22/8). Program 3 in 1 Kemenperin ini mengusung tema pendidikan dan pelatihan operator mesin industri garmen

Dalam acara tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi ekjen Kemenperin Syarif Hidayat, Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Haris Munandar, serta Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Mujiyono menyampaikan bahwa pihaknya sangat memberikan apresiasi atas program diklat berbasis 3 in 1  ini karena merupakan salah satu pendidikan vokasi berbasis kompetensi untuk menyiapkan tenaga kerja ahli di sektor industri.

”Saya mengapresiasi program diklat berbasis 3 in 1  ini karena merupakan salah satu pendidikan vokasi berbasis kompetensi untuk menyiapkan tenaga kerja ahli di sektor industri,” ujar Menperin saat membuka resmi Diklat Operator Mesin Industri Garmen di BDI Jakarta.

Menurutnya, pelaksanaan diklat ini sebagai upaya memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri yang terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan kinerja sektor padat karya tersebut. “Lulusan nantinya tidak saja pada tingkat operator, tetapi juga diharapkan untuk tingkat ahli yang setara dengan pendidikan Diploma 1 sampai Diploma 4,”  paparnya.

Lebih lanjut, Airlangga mengutarakan dari data permintaan tenaga kerja tingkat ahli dari lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung yang dimiliki Kemenperin. Setiap tahun, permintaan dari industri mencapai 500 orang, sementara STTT Bandung hanya mampu meluluskan 300 orang per tahun.

Dalam sambutannya, Menperin Airlangga menjelaskan bahwa pihaknya telah menyelenggarakan program pendidikan Diploma 1 dan Diploma 2 bidang tekstil di Surabaya dan Semarang sejak tahun 2012. Kegiatan ini menggandeng STTT Bandung, PT. APAC Inti Corpora, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) serta perusahaan tekstil di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Kami berpesan kepada seluruh peserta agar terus belajar dengan baik, disiplin dan bertanggung jawab. Setelah penempatan kerja nanti juga terus meningkatkan kompetensi, disiplin, kejujuran dan etos kerja serta menunjukkan profesionalitas dalam bekerja,” himbauannya.

Melalui kegiatan ini, Menperin berharap para lulusan diklat ini dapat membuat kelompok usaha bersama untuk pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di sektor tekstil, dengan menerima pesanan dari perusahaan-perusahaan TPT yang telah berkembang.

“Saya meminta kepada BDI Jakarta dan Pusdiklat Industri dapat segera memfasilitasi pengembangan wirausaha industri tersebut,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekjen Kemenperin, Syarif Hidayat mengutarakan kegiatan ini dilaksanakan selama 21 hari, mulai tanggal 22 Agustus – 11 September 2016 dengan diikuti sebanyak tiga angkatan secara paralel, yakni angkatan 35, 36 dan 37 yang berasal dari berbagai Kabupaten/Kota di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Lampung.

“Kurikulum pelatihan meliputi pengenalan mesin jahit high speed, pengoperasian mesin garmen, membuat pola dasar, pengetahuan quality control dan K3, pelatihan menjahit, kewirausahaan, motivasi, dan kepemimpinan,”  jelasnya.

Turut hadir Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas Rahma Iryanti, serta Deputi IV Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin

RED
EDITO R: INTAN