Evaluasi Kinerja 360 Hari Presiden Jokowidodo (Part 7)

TANGKAS – Evaluasi Kinerja Presiden Jokowidodo (7), Fokus pembahasan pada poin ke-6 Nawacita, Pemerintahan Presiden Jokowi-JK berjanji akan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, agar bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.

 

Untuk mencapainya, pemerintah akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur, seperti jalan baru, pelabuhan, bandara, waduk, pembangunan kawasan industri, pasar-pasar tradisional, hingga menciptakan layanan satu atap untuk investasi dan efisiensi perizinan bisnis. Semua janji-janji itu sudah terpenuhi dan sudah dikupas sebelumnya.

Namun perlu ditekankan bahwa produktivitas dan daya saing hanya dapat dicapai melalui peningkatan investasi. Produktivitas memang menjadi sangat penting sebagai anti tesis dari pembangunan masa lalu yang selama ini mengandalkan pertumbuhan dari konsumsi. Konsumsi yang berlebihan jelas tidak berkelanjutan. Hal ini amat terasa ketika nilai dolar AS tiba-tiba menguat terhadap rupiah, sehingga rakyat tidak punya pilihan selain membeli barang-barang impor yang juga melonjak harganya. Jadi hanya dengan produktivitas yang tinggi kita bisa terlepas dari ketergantungan atas produk-produk impor.

Dalam konteks ini investasi memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas nasional. Untuk menggerakkan mesin-mesin produksi, Indonesia membutuhkan modal yang tidak sedikit yang tidak bisa dipenuhi dengan mengandalkan anggaran pemerintah (APBN dan APBD) maupun perbankan nasional yang terbatas. Tentu terdapat konsekuensi bahwa melalui investasi, sebagian kepemilikan dari proyek yang akan dilaksanakan akan dibagi dengan investor. Namun hal itu dapat dikelola atau dikendalikan dengan aturan-aturan yang membatasi kepemilikan mayoritas, periode investasi dan persyaratan alih-teknologi, terutama di sektor-sektor yang strategis.

Dalam konteks peningkatan produktivitas, maka peningkatan investasi ini juga berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 12,31%, dari 610.959 pada semester I 2014 menjadi 686.174 di periode yang sama tahun 2015 (Data BKPM).

Data terbaru yang dirilis BKPM per 2 November 2015, menyebutkan, sepanjang Januari hingga September 2015, realisasi investasi sudah mencapai Rp 400 triliun, naik 16,7% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja, terserap sebanyak 1.060.000 tenaga kerja, atau naik 10,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2014.

Fakta menunjukkan, meskipun ada kekuatiran umum tentang perlambatan ekonomi dunia, namun optimisme investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia tetap tinggi. Hal ini tercermin dari jumlah investasi untuk proyek baru yang semakin meningkat dibandingkan proyek perluasan (dari proyek sebelumnya).

Bahkan, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia menempati peringkat 1 untuk porsi investasi, yaitu sebesar 31% dan diikuti oleh Vietnam 17% dan Malaysia 16%. Padahal, secara umum investasi ke ASEAN turun 3,2% dibandingkan periode sebelumnya. Sementara, dibandingkan periode tahun sebelumnya, investasi ke Indonesia justru naik sangat pesat, yaitu 62,4%.

Meskipun di berbagai media ramai diperbincangkan ihwal rencana investasi Tiongkok di Indonesia, faktanya investasi Singapura yang paling besar direalisasikan, yaitu sebesar USD2,3 miliar untuk Semester I 2015, diikuti Jepang sebesar USD1,57 miliar dan Amerika Serikat sebesar USD0,78 miliar. Tiongkok hanya menempati peringkat ke-12 dengan realisasi investasi sebesar USD0,1 miliar.

Kepala BKPM Franky Sibarani memaparkan, antara Januari- September 2015, realisasi investasi sebesar Rp400 triliun, berupa penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA). Berdasarkan pencapaian itu, BKPM yakin realisasi investasi pada 2015 melampaui jumlah yang ditargetkan senilai Rp 519,5 triliun. “Kami prediksikan bisa mencapai Rp 530 triliun hingga Rp 535 triliun,” kata Franky dalam sebuah acara diskusi pakar di Jakarta, Senin, 2 November 2015.

Franky menjelaskan, selama periode Januari hingga September 2015, PMA dan PMDN tumbuh sebesar 17 persen. Realisasi investasi pada sektor prioritas juga mengalami kenaikan, kecuali di industri padat karya yang menurun 13,4 persen. Kenaikan terbesar pada industri makanan dan minuman.

Realisasi investasi pada industri-industri yang lain, seperti infrastruktur naik 12,4 persen, pertanian 8,2 persen, pariwisata 62,6 persen, maritim 28,6 persen, industri bahan baku atau substitusi impor 15,9 persen, induatri orientasi ekspor 10,4 persen, dan industri hilirisasi sumber daya mineral 67,8 persen.

Berdasarkan pertumbuhan investasi PMDN maupun PMA itu, terbukti bahwa kemudahan izin prinsip yang diperoleh para investor benar-benar direalisasikan melalui industri yang mereka bangun.

Baca juga:

Evaluasi Kinerja Presiden Jokowidodo (1)

Evaluasi Kinerja Presiden Jokowidodo (2)

Evaluasi Kinerja Presiden Jokowidodo (3)

Evaluasi Kinerja Presiden Jokowidodo (4)

Evaluasi Kinerja Presiden Jokowidodo (5)

Evaluasi Kinerja Presiden Jokowidodo (6)

 

EDITOR : DD BIN