DPR Tidak Percaya Pertemuan Presiden dengan Obama Gunakan Lobbyist

TANGKAS – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah sendiri tak percaya dengan kabar yang beredar tentang Kunjungan Presiden Jokowidodo bertemu dengan Barack Obama menggunakan biaya lobbyist hingga Rp 1 milliar. Menurutnya, dalam kapasitas seorang presiden, Presiden tidak membutuhkan pelobi untuk meminta bertemu dengan siapa saja termasuk barack Obama.

“Dari mana biaya (Rp 1 miliar untuk lobi) itu? Sebab kalau saya merasa bahwa, pertama, Obama merasa diri orang Indonesia, pasti Obama tidak merasa perlu (lobi) itu,” kata Fahri Hamzah di Gedung DPR, Jakarta, Senin (9/11).

Lebih lanjut, Fahri menekankan bahwa melihat pemerintah Indonesia seperti sedang mengulang kejayaan Poros Jakarta-Peking, maka Amerika perlu untuk “merangkul” Indonesia lebih erat lagi.

Seperti diketahui, pihak pemerintah lewat Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, sudah mengeluarkan bantahan resmi terkait tulisan yang beredar. Retno dengan tegas mengatakan bahwa pertemuan dengan Obama sudah diatur jauh-jauh hari.

Bantahan senada juga sudah dikeluarkan oleh pihak Kedutaan Besar Indonesia di Amerika. Dikatakan bahwa Presiden Jokowi melakukan lawatan ke Amerika, dalam rangka memenuhi undangan Presiden Barack Obama.

Kembali kepada Fahri, politisi PKS ini meyakini tidak ada broker dalam pertemuan Jokowi dengan Obama. Meskipun demikian, ia mengatakan bahwa proses lobi merupakan hal lumrah dalam budaya politik Amerika.

“Jadi dari dua perspektif itu saya tidak merasa Pak Jokowi memerlukan lobi,” tegasnya.

Meski begitu, Fahri mengatakan bahwa lobi adalah sistem yang legal di Amerika, dan praktik lobi bukanlah praktik yang berisiko pidana. Baik dalam konteks pemerintah Amerika Serikat maupun Kongres.

“Di Amerika lobi adalah bagian daripada sistem dukungan dalam proses pengambilan keputusan mereka, sehingga satu kelompok melobi untuk bertemu dengan satu kelompok lain merupakan mekamisme bisnis biasa,” tegas Fahri.

Agus

EDITOR : DD BIN