Di Italia, Bima Arya Menyatakan Punya Tanggung Jawab Atas Keberagaman Kota Bogor

TANGKAS   – Dalam acara Konfrensi Unity Diversity di Florence Italy, Wali Kota Bogor Bima Arya diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato kebangsaan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di Kota Bogor. Banyak hal yang dibicarakan oleh Bima Arya salah satunya mengenai keberagaman masyarakat kota Bogor.

Bima memulai berpidatonya dengan menceritakan sejarah Kota Bogor, dimana daerah yang dikenal sebagai kota hujan ini usianya sudah ‎533 tahun. Kota ini dulunya dikenal karena menjadi ibu kota dari salah satu  kerajaan terbesar di indonesia, Kerajaan Pajajaran. Kota ini kata Bima masih sangat muda dibanding sebagian besar kota di Eropa.

Namun demikian, Bima menyampaikan bahwa
bahwa kota yang menjadi rumah dari satu juta warga ini adalah satu dari kota-kota di Indonesia yang tidak pernah menghadapi persoalan konflik sosial serius yang mengancam persatuan warganya. Meski di Bogor terdapat kelompok masyarakat dengan agama yang berbeda.

“Saya memang baru bertugas sebagai walikota selama 1,5 tahun. Namun keluarga saya  selama lima generasi menjadi bagian dari tradisi kota ini yang hidup berdampingan secara damai dari masa ke masa apapun suku dan agamanya,” kata Bima Arya Jumat (6/11/2015).

Bima Arya menceritakan, di Bogor  ada salah satu vihara tertua di indonesia  tempat ibadah umat Budha yang juga kerap dijadikan tempat pengajian bagi kaum muslim. Di bulan suci Ramadhan, vihara yang lain , Dhanagun menyediakan makanan bagi kaum muslim untuk bersama sama berbuka puasa.

“Di kota ini, gereja-gereja tua yang indah, berdiri di pusat kota tidak jauh dari masjid- masjid besar pusat aktivitas kaum muslim,” ucapnya di depan ratusan wali kota dari seluruh dunia.

Sebagai Wali Kota, Bima menyatakan, pihaknya punya tanggung jawab penuh untuk menjaga keberagaman di Kota Bogor. Menurutnya, Keberagaman adalah pemberian dan keniscayaan yang harus tetap dijaga dan dilestarikan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

“Persatuan adalah pilihan dan kesepakatan. Persatuan bukan pemberian dan harus menjadi pilihan untuk terus diperjuangkan. Menjadikan pemberian menjadi kesepakatan dan komitmen adalah hal yang tidak mudah,” tuturnya.

Politisi Partai Amanat Nasional ini mengakui di Kota Bogor  potensi konflik atas nama agama bukannya tidak ada. Namun, tugas dia adalah mengantisipasi konflik terjadi, baik melalui proses dialog maupun pendekatan keamanan. Menurutnya, sejarah panjang kerukunan akan ternoda apabila ada darah menetes akibat konflik agama.

“Setetes darah akibat konflik agama akan menjadi mimpi buruk yang terus menghantui benak warga seumur hidup,” imbuhnya.

Bagi Bima tantangan keberagaman bukan hanya keragaman lokal yang sudah lama ada, tetapi juga munculnya keragaman baru termasuk ideologi yang bersifat transnasional. Sebab, kebebasan demokrasi di era reformasi sudah menjadikan ruang terbuka bagi masyarakat untuk memanifestasikan budaya keagamaan  dalam bentuk tindakan.

“Di kota kami  dialog terus dilakukan, proses pembelajaran terjus berjalan. Walikota adalah pelayan untuk semua kalangan. Baik yang tradisional, radikal maupun liberal,” terangnya.

Tidak lupa pula Bima menyampaikan cerita pribadinya di mana ia lahir dari keluarga muslim, dengan istri keturunan Cina. Kemudian menempuh pendidikan di Universitas Paramadina yang didirikan oleh Cedekiawan Muslim terkenal Nurcholish Majid. Bima juga sempat menjadi dosen di Paramadina.

Pengalaman sekolah di Paramadina menjadikan Bima lebih terbuka dan bisa menghargai dan menghormati semua perbedaan masyarakatnya. Menurutnya, Banyak hal yang bisa menyatukan warga Kota Bogor, misalnya dengan menambah fasilitas ruang publik, dimana semua masyarakat bisa berkumpul tanpa ada sekat.

“Saya yakin perbedaan adalah karunia Allah yang diberikan untuk menguji kita. Menjaga harmoni dan keseimbangan adalah tugas terberat seorang walikota. Ada kalanya pilihan yang tersedia bukanlah pilihan ideal, sehingga walikota harus mengambil tindakan dengan menghitung dampak kerusakan yang paling minimal dari kebijakan yang dipilih,” tandasnya.

Terakhir ia menyampaikan Kota Bogor ingin terus belajar dari kota kota lain di dunia ini untuk membangun demokrasi dan merawat keberagaman. Ia berharap semoga semangat renaisans terus menuntun kita semua untuk merawat keberagaman dan menguatkan persatuan.

“Karena masa depan hanya dimiliki oleh siapa yang belajar dari kegagalan dan kecemerlangan masa lampau dan bersiap menjemput harapan di masa depan,” jelasnya.

Konferensi ini dihadiri  sekitar 100 walikota dari seluruh dunia yang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan konflik dan menjaga keberagaman dan persatuan. Berbicara di forum ini beberapa pemenang nobel perdamaian seperti dario fo dan tawakkol karman aktivis perempuan dari yaman.‎

INTAN

EDITOR : DD BIN