BBPOM Tetapkan Aceh Sebagai Kota Penjual Produk ilegal Terbanyak

TANGKAS –   Banda Aceh ditetapkan menjadi kota dengan penjualan terbanyak untuk produk ilegal, terutama kosmetika, hingga akhir Oktober 2015.

Hal ini disampaikan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh setelah menggelar Operasi Pengawasan Kosmetika pada akhir Oktober.

Kepala BBPOM Aceh Syamsuliani mengatakan, pihaknya menemukan 59 jenis kosmetika ilegal dengan jumlah 324 unit hanya dalam sepekan, yakni pada 26-31 Oktober 2015, dengan nilai ekonomi mencapai Rp 6,5 juta.

“Peredaran produk ilegal ini selain membahayakan kesehatan masyarakat juga merusak kehidupan sosial dan perekonomian nasional,” kata Syamsuliani saat menggelar hasil temuan Operasi Pengawasan Kosmetika di BBPOM Aceh, Senin (2/11/2014).

Selain di Banda Aceh, BBPOM juga melakukan operasi serupa di beberapa daerah lain, misalnya di Kabupaten Aceh Timur.

Di Aceh Timur, BBPOM menemukan kosmetika ilegal sebanyak 62 buah dengan nilai ekonomi Rp 5,62 juta.

“Walau jumlahnya lebih banyak, nilai ekonominya masih jauh di bawah Banda Aceh,” tambah Syamsuliani.

Untuk Kota Langsa, 62 kosmetika ditemukan dengan nilai ekonomi Rp 4,15 juta. Di Kabupaten Aceh Tengah, petugas menemukan 15 produk kosmetika ilegal dengan nilai ekonomi Rp 1,8 juta.

Sementara itu, petugas BBPOM juga menemukan obat daftar G dijual di tempat yang tidak seharusnya di Kabupaten Nagan Raya.

Jumlah obat daftar G itu sebanyak 83 produk dengan nilai ekonomi Rp 6 juta.

Syamsuliani mengatakan, pemberantasan produk ilegal ini tidak hanya difokuskan pada pelaksanaan di tingkat hilir, tetapi juga merambah ke hulu untuk bisa menekan ruang gerak pelaku pelanggaran di bidang obat dan makanan.

“BBPOM juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan barang-barang yang dikonsumsi, dan tidak terpengaruh pada merek dan khasiat yang tidak jelas kualitasnya dari segi kesehatannya,” kata Syamsuliani.

Sejak Januari hingga Oktober 2015, BBPOM telah menyita ribuan produk kosmetika ilegal di sejumlah daerah di Aceh dengan nilai ekonomi mencapai Rp 70 juta.

INTAN

EDITOR : DD BIN