Australia Akui Kucurkan Dana Guna Cegah Pendatang Imigran Gelap

TANGKAS – Menlu Julie Bishop bersama semua anggota parlemen Australia dalam doa bersama di Canberra, Kamis (5/3/2015) pagi.

Isu penyuapan aparat penjaga perbatasan Australia kembali mengemuka. Dalam pernyataan terbarunya, Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengakui negaranya memang menggelontorkan dana untuk menghalau para pendatang yang mengarah ke Australia.

“Pemerintah Australia punya kebijakan untuk menyelamatkan para pendatang karena dalam setahun ada 200 imigran gelap tewas di laut,” kata Bishop.

“Kami tidak ingin hal itu terjadi lagi. Pemerintah mengucurkan dana untuk mencegah hal itu. Namun saya tidak ingin berbicara lebih jauh soal ini,” ucap Bishop

Artinya, apakah suap itu benar-benar terjadi? Bishop enggan menjawabnya.

Sebelumnya, sempat ramai diberitakan pada bulan Juni lalu, dua kapal yang membawa 65 orang terdampar di Pulau Landuli, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kapal itu mengangkut warga negara asing asal tiga negara Myanmar, Bangladesh dan Srilanka, yang hendak mencari suaka di Australia,

Dari hasil penelusuran jajaran Polres NTT, muncul pengakuan kapten dan awak kapal bahwa mereka masing-masing menerima uang sejumlah 5.000 dolar AS atau sekitar Rp 67,5 juta untuk kapten dan enam ABK kapal.

Uang dengan total sekitar Rp 400 juta itu dimasukkan ke enam kantong plastik hitam. Uang itu diserahkan oleh penjaga perbatasan Australia kepada kapten kapal seusai dicegat di wilayah perairan Australia.

Kapal itu kemudian diminta kembali ke perairan Indonesia. Padahal diketahui, di dalam kapal itu terdapat 65 imigran dan sudah berbulan bulan berlayar mengarungi lautan. Di antara mereka adalah 4 orang perempuan, 2 anak-anak dan seorang balita

Isu penyuapan ini menjadi berita besar karena Australia telah meratifikasi konvensi pengungsi tahun 1951.

Sejumlah pihak, termasuk aktivis HAM di berbagai belahan dunia mengecam Australia. Negeri Kanguru itu bisa dianggap melanggar hukum internasional, karena tidak melindungi pengungsi yang berada di wilayah perairannya.

Soal eksekusi mati

Dalam wawancara ekskulsif itu, Aiman juga menanyakan soal kemarahan pemerintah dan publik Australia kepada pemerintah Indonesia atas eksekusi mati 2 warga Australia yang terlibat Narkoba, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Julie menganggap, seharusnya pemerintah Indonesia layak memberikan pengampunan kepada kedua warga negara Australia tersebut.

INTAN
EDITOR : DD BIN