Aksi 212 dan 412, Penyegaran Rasa Bhinneka Tunggal Ika Bangsa

TANGKAS – Awal perjalanan bulan Desember menjadi momen dalam upaya menjaga keutuhan NKRI. Aksi 212 dan Aksi 412 mempunyai makna dan tujuan serta mengandung penyampaian pesan yang sama.

Para tokoh agama, politisi, ormas, elemen mahasiswa, buruh, kader pemerintah hingga pejabat pemerintah turut andil dalam kedua aksi yang bertajuk aksi super damai tersebut.

Walaupun nuansa pesan yang disampaikan beragam dengan berbagai kegiatan, atraksi dari gelar doa bersama hingga panggung musik , semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu menjaga keutuhan NKRI.

Kasus penistaan agama oleh Cagub DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dinilai dapat membangkitkan dan membuktikan rasa persatuan Indonesia yang sesuai dengan Sila Ke 3 Pancasila dari beragamnya suku, budaya, ras dan agama yang ada di tanah air.

Kasus Penistaan agama Ahok telah menguji rasa ke Bhinneka Tunggal Ika an dari bangsa Indonesia.

Kendati demikian perlu diakui beberapa pihak menggunakan Kasus Penistaan Agama Ahok ini sebagai gerbang dalam meruntuhkan tahta Presiden Jokowidodo dan lingkarannya di Istana Negara.

Bukan itu saja, Kasus penistaan agama Ahok ini telah berhasil mengalihkan perhatian publik beberapa kasus politik dan pidana para pejabat didalam negeri.

Kasus HAM, pelecehan seksual, ekskusi mati, Korupsi, hingga kasus sumber waras mampu diredam dan hilang sesaat dalam isu politik di tanah air akibat Kasus Ahok tersebut.

Walaupun demikian kita sebagai bangsa yang bermartabat patut secara bersama mengacungkan jempol atas Aksi 212 dan 412 sebagai penyegaran atas Rasa Kebangsaan, Nasionalisme dan Kebhinneka Tunggal Ikaan semua warga negara Indonesia dalam menjaga keutuhan NKRI

RED

EDITOR INTAN