Akhirnya Adriansyah, Mantan Fraksi PDIP DPR Ditetapkan 5 Tahun Penjara

TANGKAS – Mantan Fraksi PDIP DPR,  Adriansyah dituntut lima tahun dan tiga bulan penjara terkait kasus suap Rp2 miliar dari bos perusahaan tambang, Andrew Hidayat, Senin (2/11/2015) di pengadilan Tipikor, Jakarta.

Selain itu, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menegaskan mantan anak buah Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri tersebut diwajibkan membayar denda Rp 250 juta.

“Terdakwa dituntut selama 5 tahun dan 3 bulan dan denda Rp250 juta. Bila tidak dibayar, maka diganti dengan kurungan empat bulan,” tegas Jaksa Lie Putra Setiawan.

Jaksa menilai perbuatan Adriansyah sebagai seorang Bupati Tanah Laut periode 2008-2013 dan anggota DPR RI periode 2014-2019 membuat pemerintahan daerah yang koruptif. Perbuatan Adriansyah dinilai bertentangan dengan semangat masyarakat dan negara untuk memberantas korupsi.

“Hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan di persidangan, mengakui terus terang perbuatannya, menyesali perbuatannya, dan belum pernah dihukum,” kata jaksa.

Dalam persidangan pembuktian, Adriansyah telah mengaku membantu Andrew Hidayat untuk melancarkan kegiatan perusahaan tambang. Duit Rp2 miliar yang diterima Adriansyah berbentuk tiga jenis mata uang.

Duit senilai Sin$ 50 ribu diberikan pada April 2015 di Bali. Sementara duit Rp 500 juta diberikan pada 28 Januari 2015 di Mall Taman Anggrek, Jakarta.

Disamping itu, sejumlah uang senilai US$ 50 ribu diberikan pada 13 November 2014 di Mall Taman Anggrek, Jakarta. Sementara uang senilai Rp 500 juta lainnya diberikan pada 20 November 2014 di Jakarta.

Adriansyah juga tertangkap tangan menerima duit Rp 500 juta saat dirinya mengikuti kongres partai banteng di Pulau Bali, April 2015 lalu. Duit disetorkan melalui Kepala Urusan Rumah Tangga Andrew, Agus Krisdiyanto.

Duit itu diduga merupakan hadiah untuk memuluskan izin usaha perusahaan tambang. Adriansyah masih memiliki pengaruh di wilayah tersebut. Terlebih, anaknya bernama Bambang Alamsyah kini meneruskan tahta sang ayah.

Suap bermula sekitar tahun 2012 dimana keduanya bertemu untuk melobi jual beli batu bara perusahaan rekan Andrew, PT Indoasia Cemerlang (PT IAC).

Andrew menjelaskan PT IAC tengah bersengketa dengan PT Arutmin dan kepala desa terkait tak berfungsinya jalan angkut batu bara. Atas bantuan Adriansyah, sengketa tersebut tuntas melalui musyawarah para pihak.

Selanjutnya, Andrew juga membantu proses nego pengurusan izin usaha Operasi Produksi PT Dutadharma Utama (PT DDU) dan perizinanan surat eksportir terdaftar milik PT IAC dan PT DDU. Atas permintaan Andrew, Adriansyah menerbitkan izin usaha tanpa disertai studi kelayakan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Menanggapi tuntutan jaksa, Adriansyah akan mengajukan pledoi atau nota pembelaan yang akan dibacakan pada sidang berikutnya pekan depan.

“Setelah konsultasi dengan penasihat hukum saya, pembelaan pertama ada dari saya pribadi, kedua dari penasihat hukum,” ucap Adriansyah di ruang sidang.

Sementara itu, sang penyuap, Andrew, telah divonis dua tahun penjara. Andrew telah mengaku menyerahkan duit suap dan meminta bantuan kepada Adriansyah

Agus

EDITOR : DD BIN